Toko GEKAJE

gekaje

Polling Website

Apakah Website ini Menarik?

Artikel Terakhir

Calendar

« Dec 2017 »
M S S R K J S
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6

Statistik Website

mod_mod_visitcounterVisitors Online5
mod_mod_visitcounterHits2518437
mod_mod_visitcounterToday431
mod_mod_visitcounterYesterday790
mod_mod_visitcounterThis week431
mod_mod_visitcounterThis month14571
mod_mod_visitcounterAll days382268

Kotbah Minggu, 17 April 2016

Kotbah Minggu, 17 April 2016gembala yang baik

Minggu, 17 April 2016

Hari Minggu Paskah IV (Putih)

Tema Perayaan Iman

Gembala Baik Memberi Hidup.

Daftar Bacaan Kitab Suci

Bacaan I                          : Kisah Rasul 9 : 36-43

Masmur antar bacaan      : Masmur 23

Bacaan II                         : Wahyu 7 : 9-17

Bacaan Injil                      : Yohanes 10 : 22-30

Tujuan

Jemaat dimampukan oleh kasih karunia Tuhan untuk menjalani kehidupannya dengan penuh keyakinan. 

KOTBAH

Peran Tugas Sang Gembala

Jemaat  yang terkasih,

Mohammad Yamin, salah seorang sastrawan yang cukup terkenal dari Indonesia dalam sebuah puisinya menceritakan sosok gembala. Di mana sosok gembala yang tentunya dari kacamatanya sebagai orang Indonesia. Dengan latar belakang kondisi di Indonesia secara fasih Moh. Yamin menggambarkan bagaimana sosok gembala yang biasa membawa ternak gembalaannya.

             Perasaan siapa yang tidak kan nyata

             Melihat anak berlagu dendang

             Seorang sahaja di tengah dendang

             Tiada berbaju, buka kepala

             Beginilah nasib anak gembala

             Berteduh di bawah kayu nan rindang

             Semenjak pagi meninggalkan kandang

             Pulang ke rumah di senja kala

             Jauh sedikit sesayup sampai

             Terdengar olehku bunyi serunai

             Melagukan alam nan elok permai

             Wahai gembala di segara hijau

             Mendengar puputmu menurutkan kerbau.

 

Jemaat yang terkasih,

Memang kalau di Indonesia sosok gembala tidak saja yang menggembalakan domba namun juga yang menggembalakan berbagai ternak. Hewan gembalaannya bisa kerbau, sapi, kambing juga hewan ternak lainnya. Saat kita mendengar puisi Moh. Yamin ini, terasa sekali bagaimana seorang gembala menjalankan perannya. Peran yang sekarang ini hampir jarang kita temui lagi. Bahkan di daerah-daerah pedesaan sekalipun. Seorang anak dengan seruling di tangannya duduk di atas punggung kerbaunya dan melantunkan lagu yang bisa menyentuh perasaan pendengarnya. Sedangkan teman-teman seusianya bermain dengan riang gembira. Di tanah lapang dengan rumput hijau nan segar. Gambaran yang memang susah kita temui di daerah-daerah perkotaan. Di perkotaan yang mungkin saja  kita bisa temui bagaimana baik kerbau ataupun sapi digembalakan di daerah dengan banyak sampah menjadi makanan hewan ini. Ini menjadi tantangan tersendiri bagaimana peran dan tugas dari seorang gembala di daerah yang demikian. Apakah akan membiarkan hewan gembalaannya tidak sehat? Sedangkan untuk mencari ladang dengan rumput hijau saja sangat susah. 

Sosok seorang gembala bisa jadi seseorang yang dekat dengan hewan gembalaannya. Ada ikatan emosi yang bisa terjalin diantara keduanya. Bahkan dari mazmur 23 kita temukan bagaimana eratnya hubungan yang digambarkan oleh raja Daud antara gembala dengan domba-dombanya. Penggembala yang Raja Daud gambarkan dengan peran keberadaan Tuhan bagai gembala dimana ia berada. Di daerah Timur Tengah di mana gembala juga bisa menjadi salah satu mata pencarian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kedekatan antara seorang gembala dengan ternak gembalaannya sebagai salah saju wujud seorang gembala bisa dengan baik memahami ternak gembalaannya. Di sini Raja Daud menggambarkan bahwa sosok seorang gembala dengan berbagai peran serta tugas yang harus ia jalani. Seperti halnya yang Raja Daud ungkapkan bagaimana sosok gembala bisa membaringkan, membimbing, menyegarkan, menuntun, menyediakan, serta mengurapi domba-dombanya.

Namun apabila kita bandingkan dengan tugas dan peran seorang gembala dalam arti nyata, untuk di daerah perkotaan yang susah untuk menemukan daerah dengan padang rumput hijau yang terbentang luas. Tentunya akan sangat susah menjadi gembala ternak di daerah perkotaan. Ini menjadi hal yang menarik dan menjadi tantangan tersendiri. Sebab ternyata menurut Raja Daud sendiri seorang gembala bila diperhadapkan kepada peran dan tugasnya sangatlah memungkinkan di daerah manapun ia berada.

Peran Tuhan dalam melaksanakan tugas bisa dijalankan juga oleh setiap umat-Nya. Seperti halnya yang dilakukan oleh Tabita atau Dorkas. Setiap dari kita bisa menjadi gembala yang memberikan kasih. Melayani sesama, memberi kesegaran jiwa tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi orang lain. Tindakan yang dilakukan oleh Tabita setidaknya membawa orang lain yang mengenalnya merasa dipuaskan. Mereka yang dulunya merasakan dahaga akan cinta, perhatian, kasih sayang juga persahabatan akhirnya mendapatkan perhatian, kasih juga persahabatan yang ditawarkan dan disediakan oleh Tabita orang yang bisa saja bukan keluarga sedarah mereka.

Melalui Tabita juga bisa membawa orang lain mengenal karakter Tabita sebagai pengikut Kristus. Maka dari itu saat Tabita tiada, banyak orang yang merasakan kesedihan yang luar biasa. Mereka seakan kembali merasakan kehilangan cinta, kehilangan perhatian, kasih juga kehilangan sosok Tabita yang sudah mereka jadikan saudara. Maka tidak mengherankan dengan keadaan yang demikian, saat mereka tau keberadaan Petrus yang juga telah mereka dengar tentang siapa sosok Petrus ini. Seorang yang juga telah mendapat curahan kuasa Kristus, melakukan beberapa mukjizat. Tentunya tumbuh harapan untuk agar Petrus kembali melakukan mujizatnya bagi Tabita. Hal ini tentunya akan kembali menyegarkan jiwa mereka kembali.

Jemaat yang terkasih,

Meskipun sosok gembala dapat ditemui dalam diri Tabita juga Petrus. Ternyata bagi Raja Daud sendiri peran serta tugas dari gembala tidak hanya memberikan kelegaan, menyegarkan jiwa,itu semua tidaklah cukup. Peran serta tugas gembala yang juga terkadang mengalami berbagai persoalan namun bagaimana ia bisa menghadapinya dengan tenang. Tetap menjaga kawanan dombanya dengan benar. Supaya kawanan domba yang memang hasil Karya Anak Domba dengan mengumpulkan serta membawa orang-orang dalam jumlah yang besar bukan pada penderitaan,dukacita dan kesengsaraan namun kepada kehidupan. Melalui karya Anak Domba inilah orang-orang yang mengikutiNya tidak akan kelaparan serta dahaga lagi. Serta terlepas dari kesusahan atau kesengsaraan besar (konflik antara kebenaran dan kejahatan yang sedemikian hebat) yang juga merupakan masa hukuman bagi dunia fasik yang menolak kasih karunia Tuhan.

Melalui karya Anak Domba, yaitu Kristus sendiri yang juga membawa pengharapan. Pengharapan akan kesadaran untuk kita tetap memegang teguh iman atau kepercayaan kita kepadaNya. Sebab orang-orang kudus atau orang-orang yang menerima Kristus juga akan menjadi sasaran dari orang-orang jahat. Sosok gembala yang benar-benar sesuai dengan harapan seperti halnya yang juga diungkapkan oleh Yohanes dalam Injilnya. Bertanggung jawab akan kelangsungan hidup domba-dombanya membawa domba-dombanya kepada tempat yang aman, nyaman, tempat yang bisa menjadi tempat istirahat  setelah mereka mencari padang rumput. Tanggungjawab seorang gembala tidak sekedar domba-dombanya kenyang, tidak kelaparan namun bagaimana domba-domba gembalaannya juga merasa aman dan nyaman. Menjaga domba supaya tetap pada kawanannya, tetap pada jalan yang harus dilalui sehingga gembala terkadang juga membawa tongkat guna menghalau kawanan dombanya pada jalan yang seharusnya. Tak ada domba atau ternaknya yang hendak menyimpang pada jalan lain. Membawa domba-dombanya juga tidak tercecer, melindungi domba-domba dari berbagai bahaya.

Jemaat yang terkasih,

Tugas dan peran yang seakan memang tidak mudah. Seorang gembala pun,  dalam menjalankan peran dan tugasnya sering kali kepanasan dan juga bahkan kehujanan. Banyak hambatan serta bahaya yang harus ia lalui. Tidak sekedar hambatan dan bahaya dari luar dirinya sendiri. Bahaya dan hambatan terkadang juga datang dari pihak dalam diri sang gembala itu juga. Mulai pagi pergi bersama ternak gembalaannya kemudian baru pulang pada senja atau petang hari. Di sinilah Yohanes membawa kita untuk senantiasa mencontoh, meneladani dengan apa yang Yesus lakukan. Dia yang menjadi teladan sebagai sosok gembala yang sempurna.

Tidak sekedar membaringkan di padang berumput hijau dalam kelelahan kita, Ia memahami kekurangan serta kelemahan kita – Ia membimbing ke air tenang sebab dalam-Nya kita bisa memercayakan kehidupan kita tanpa kwatir penilaian orang bagaimana dengan peran yang telah kita lakukan. Ia menyegarkan jiwaku memberi kekuatan dalam keterpurukan– Ia menuntun kepada jalan yang benar dengan setiap ajaran-ajaran-Nya- Ia menyediakan hidangan, menyediakan kehidupan yang nyata bagi yang benar-benar datang kepada-Nya- Ia mengurapi dengan minyak, senantiasa memberikan perlindungan serta berkat-Nya.

Tidak hanya memberi dengan kasih, Ia juga mengajar, dengan ajaran yang mengarahkan kepada jalan kebenaran. Menyediakan kehidupan yang sempurna, di tengah berbagai badai kehidupan. Ia juga yang mampu mengatasi dan bahkan rela hidup-Nya dibagi untuk domba-domba kesayangan-Nya. Sehingga saat domba-domba melihat apa yang telah dilakukan gembalanya mereka benar-benar tidak takut menghadapi berbagai bahaya. Gembala senantiasa bersama domba-dombanya. Mampu membawa dompa kepada rasa percaya kepada sang gembala. Sebab apa yang dilakukan Yesus terhadap umat-Nya ini sebagai wujud nyata peran serta tugas yang sesungguhnya dari sosok seorang gembala sejati. Tentu bukanlah tugas yang mudah dijalankan.  Peran dan tugas yang juga sama dijalankan oleh para gembala dimanapun mereka berada.

Amin

Berita Terkait : KOTBAH MINGGU