Toko GEKAJE

gekaje

Polling Website

Apakah Website ini Menarik?

Artikel Terakhir

Calendar

« Dec 2017 »
M S S R K J S
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6

Statistik Website

mod_mod_visitcounterVisitors Online5
mod_mod_visitcounterHits2518441
mod_mod_visitcounterToday431
mod_mod_visitcounterYesterday790
mod_mod_visitcounterThis week431
mod_mod_visitcounterThis month14571
mod_mod_visitcounterAll days382268

Kotbah Minggu, 24 April 2016

Kotbah Minggu, 24 April 2016kotbah

Minggu, 24 April 2016

Hari Minggu Paskah V (Putih)

Tema Perayaan Iman

Perintah Baru

Daftar Bacaan Kitab Suci

Bacaan 1                         : Kisah Para Rasul 11:1-18

Mazmur Tanggapan        : Mazmur 148

Bacaan 2                         : Wahyu 21:1-6

Bacaan Injil                      : Yohanes 13:31-35u

Tujuan Perayaan iman

Umat menghayati bahwa hidup di dalam Kristus adalah hidup dalam tatanan baru yakni Kasih. Tatanan kasih itu menjangkau setiap orang melampaui batas-batas yang sering diciptakan manusia.

Umat menghayati bentuk iman yang kokoh di antaranya dengan mempraktekan tatanan baru yakni Kasih.

Pdt. Kus Aprianto (GKJ Rewulu)

Dasar Pemikiran

Kasih adalah hal yang sangat mudah diucapkan, bahkan dianggap hal pembeda ajaran Kristen dari ajaran agama lain. Namun kata kasih itu diwujudkan sering tidak mudah. Banyak kemudian orang Kristen alam hal praktek kasih tidak beda dengan orang lain atau malah sering di bawah orang dari agama atau budaya yang bukan berdasarkan kasih itu. Kasih sebagai anutan tertinggi, bahkan pokok penting dalam iman Kristen harus dikembangkan terus menerus dalam kehidupan kekristenan.

Kisah Para Rasul 11:1-18

Bangsa Israel adalah bangsa yang eksklusif (tertutup). Memaknai keterpilihan oleh Tuhan menjadi hak yang istimewa dan tertutup. Ketertutupan itu tampak dalam segala perilaku sosial, budaya dan jelas agama mereka. Pengaruh ketertutupan itu sedikit banyak juga mempengaruhi dan membentuk masyarakatnya, termasuk orang-orang yang menjadi pengikut Tuhan Yesus. Maka menjadi masalah ketika diketahui Petrus berada di rumah Kornelius di Kaisarea bahkan membaptis orang tersebut. Masuk rumah orang pada zaman dahulu berarti bukan sekedar bertamu, akan tetapi diterima sebagai keluarga, di ajak makan dan bahkan menginap di situ. Padahal Kornelius adalah orang Romawi, seorang perwira Pasukan Italia (Romawi). Ini aib dan haram bagi orang Yahudi yang memang sering “semuci suci.” Namun Petrus menyampaikan opologinya (pembelaan yang argumentatif), bukan sekedar apologia namun apologia tentang kebenaran. Yakni tentang kasih dan rahmat Tuhan yang bersifat terbuka, universal, kepada semua manusia dan semua bangsa.

Petrus memberikan penjelasan dengan menyampaikan penampakan yang ia terima saat ia ragu ketika hendak melayani Kornelius. Penampakan dari Tuhan tentang sebuah kain besar yang mengangkut hewan-hewan yang selama ini dianggap haram dan dipersilakan oleh Allah untuk disembelih. Petrus menolak karena itu semua binatang najis. Namun Allah menjelaskan di dalam Allah tidak ada yang najis. Semua mendapat tempat, semua dirahmati oleh Allah. Sering bacaan ini ditafsirkan oleh orang Kristen tentang boleh memakan semua hewan!!! Padahal penampakan itu kemudian berakhir dengan hilangnya gambaran binatang yang haram tadi, dan bukan sampai pada acara Petrus menyembelih binatang-binatang najis itu. Konteks narasi sebenarnya bukan soal makan dan mengisi perut, namun soal keselamatan dan anugerah Allah. Keselamatan yang melampaui batas-batas dan sekat sekat serta definisi-definisi yang sering diciptakan manusia.

Pengalaman Petrus berbicara tentang keuniversalan kasih Allah, jangkauan kasih Allah melalui Yesus yang untuk semua bangsa dan manusia. Inilah amanat baru dari Allah untuk para orang yang telah direngkuh oleh Allah melalui perjumpaan dengan Kristus.

Makna Teks dalam Konteks Tema Pelayanan Sinode GKJ

Kasih harus menjadi dasar bangunan “Rumah Bersama” GKJ. Kasih selalu mengandaikan kemampuan dan kelenturan serta kebisaan melihat segala hal, bahkan berdialog dengan segala hal itu. Terbuka dengan semua hal. Hal yang dianggap tabu, dianggap tidak umum, bahkan dianggap tidak njawani. Kasih Tuhan memampukan GKJ melihat segala hal yang baru, luas, bahkan tabu, atau dianggap tidah lumrah.

Makna Teks dalam Konteks Perayaan Liturgi Gereja

Haram dan halal secara syariat barangkali tidak ada dalam kekristenan. Namun dalam praktek hidup bisa saja itu terjadi dan sering terjadi, di dalam gereja, di dalam keluarga, di tengah masyarakat. Sehingga selalu ada oang yang tersisih, tersingkir, tertindas. Kehidupan yang seperti itu pasti kontras dengan spirit kasih Tuhan. Karenanya pasti digempur oleh Tuhan.

Mazmur 148

Mazmur ini tidak diketahui siapa panulisnya. Mazmur ini isinya pujian kepada Tuhan. Pemazmur mengajak semua memuji Tuhan. Semua ciptaan. Dari malaikat, matahari, bulan, bintang, langit, ular naga, api, hujan, air, salju, gunung, bukit, pohon, hewan, burung, semua manusia, aja, teruna, pembesar, pemerintah, anak dara. Baik benda atau ciptaan yang bernyawa maupun benda yang tak bernyawa. Semua dipersonifikasikan sebagai insan yang dapat memuji Allah. Pemazmur  benar-benar orang yang sangat mengagumi kemahabesaran Allah. Allah yang bertahta di Sorga namun Allah yang mau mendekat dan menyekutu  dengan bangsa Israel.

Mengapa pujian layak dinaikkan kepada Tuhan? Karena nama-Nya luhur dan tinggi. Artinya Dialah Sang Penguasa jagad raya, penguasa kehidupan, pemilik kehidupan. Selebihnya, termasuk manusia adalah ciptaan-Nya. Maka semua ciptaan-Nya haruslah memuji Dunia sebagai syukur dan juga penempatan diri yang tepat di hadapan-Nya.

Makna Teks dalam Konteks Tema Pelayanan Sinode GKJ

GKJ adalah gereja yang ditempatkan oleh Allah di tengah dunia, bukan hanya dunianya manusia. Namun juga dunianya tumbuhan, air, udara, tanah, angin, binatang dan hewan. Semua itu ciptaan Allah yang Maha Baik. GKJ harus mewujudkan tatanan hidup berlandaskan kasih bukan hanya untuk manusia, namun kasih untuk alam milik Tuhan. GKJ harus memelihara, memperbaiki alam Tuhan. GKJ harus kritis terhadap segala perilakunya dalam hubungannya dengan alam. Karena alam adalah Rumah Bersama.

Makna Teks dalam Konteks Perayaan Liturgi Gereja

Iman harus difahami secara holistik. Kasih sebagai dasar tatanan hidup kekristenan harus juga diimplementasikan secara holistik. Menyentuh segala dimensi hidup. Bukan hanya yang berkaitan dengan manusia, namun juga yang berkaitan dengan alam semesta milik Tuhan. Karena menisthakan alam, dengan merusak dan mencederai, sama saja mencederai hati Allah.

Wahyu 21:1-6

Wahyu 21:1-6 adalah bagian dari Pengalaman Iman apokalitis Yohanes. Pengalaman iman, pengalaman pekercayaannya pada Tuhan yang terajut dalam harapan atau ekspektasi tentang kehidupan yang baru, yang indah, yang cantik, yang ideal, yang penuh dengan ketenteraman dan kedamaian yang menggantikan dan kehidupan lama yang penuh dengan penderitaan, persoalan, penindasan yang dinyata dirasakan olehnya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Israel dan sekaligus sebagai pelaku sejarah gereja mula-mula yang sangat teraniaya.

Pengalaman iman apokaliptiknya, itu menjadikannya dia berpengharapan tentang Yerusalem yang baru, yang berbeda dengan Yerusalem yang ada di masanya. Mengapa Yerusalem? Yerusalem dibangun dan ada adalah lambang kehadiran dan kemuliaan Allah di tengah bangsa Israel. Yerusalem adalah kota Israel yang dibangun dan didirikan sebagai kota dengan pengharapan akan kedamaian dan ketenteraman yang dari Allah. Akan tetapi Yerusalem dalam kenyataan yang penulis Wahyu lihat, adalah kota yang berkebalikan  dari yang diidamkan dan dicitakan oleh Umat saat Yerusalem dibangun.

Sehingganya Yerusalem itu turun dari Sorga. Indah dan cantik bagaikan pengantin perempuan yang dihiasi dengan keindahan yang dinanti oleh mempelai pria. Seiring dengan itu Allah bersemayam di tengah umat, menjadikan umat sebagai milikNya, dan umat akan menjadikan Allah sebagai Allah mereka. Maka yang ada hanyalah sukacita dan damai sejahtera yang menggantikan duka, sedih, perkabungan yang diderita umat.

Makna Teks dalam Konteks Tema Pelayanan Sinode

GKJ adalah gereja yang harus terus membangun “apokaliptik lokalnya” yakni tentang GKJ, Jawa, Nusantara, Dunia yang tenteram. Di mana Allah berkarya di tengah dunia dan GKJ sangat tersanjung ada di dalam bagian karya itu, berpartisipasi mengambil bagian karya Allah itu. Membangun dunia yang lebih tentram dan damai dalam konteks masing-masing.

Makna Teks dalam Konteks Perayaan Liturgi Gereja

Iman dan keyakinan pada Tuhan harus selalu dibangun dalam semangat dan harapan tentang kehidupan yang indah, damai, tenteram, persaudaraan, bagi semua insan. Gereja ada dipanggil dalam rangka mewujudkan hal itu. Iman yang demikianlah iman yang berguna dan bermanfaat bagi kehidupan, kini dan esok.

Yohanes 13:31-35

Tuhan Yesus berbicara tentang kemuliaan. Kemuliaan Bapa di dalam diri-Nya dan kemuliaan Dia di dalam bapa-Nya. Memuliakan Dia berarti memuliakan Bapa, memuliakan Bapa berarti memuliakan Dia. Kemuliaan yang saling dinyatakan dan menyatakan itu hanya ada di dalam keadaan kasih yang sejati. Dia mengasihi Bapa dan Bapa mengasihi Dia. Kasih itu menghasilkan kesetiaan dan ketaatan total Dia Pada Bapa, san sebaliknya Bapa menganugerahkan kemuliaan kepada-Nya.

Jalan kemuliaan ini juga Tuhan anugerahkan kepada para muridNya. Semua karena  kasih-Nya kepada mereka. Karenanya Tuhan menghendaki juga agar para murid juga mengasihi Dia yang telah mengasihi mereka. Kasih itu diwujudkan dengan cara para murid hidup dengan saling mengasihi. Kasih adalah jalan menuju kemuliaan dan keluhuran. Kasih adalah hal yang terluhur di dalam kehidupan ini. Kemuliaan dan keluhuran kehidupan ada di dalam kasih.

Makna Teks dalam Konteks Tema Pelayanan Sinode GKJ

GKJ adalah gereja yang harus memuliakan Allah. Memuliakan Allah dalam hidup yang setia dan taat sebagai abdi dan pelayanan Tuhan yang ditempatkan dalam dunia. GKJ harus menjadi gereja yang hidup dan keberadaannya demi pemuliaan dan peluhuran Allah.

Makna Teks dalam Konteks Perayaan Liturgi Gereja

Hidup dalam Kristus adalah hidup yang telah dimuliakan Allah. Karenanya hidup dalam Kristus adalah hidup yang memuliakan sesama sebagai bentuk pemuliaan pada Allah. Pemuliaan dalam arti membangun kehidupan yang memperjuangkan nilai-nilai kasih. Mengasihi sesama. Mengasihi keluarga, tetangga, masyarakat, orang asing, bangsa dan Negara.

Harmonisasi Bacaan

Tuhan Yesus hadir bukan saja hendak menyelamatkan manusia, namun juga merombak paradigma dan budaya manusia yang sering ekslusif, tertutup terhadap yang lain. Dengan reformasi Yesus itu, maka dimensi keselamatan sungguh luas yakni membangun kehidupan relasional yang terbuka dengan yang lain. Keterbukaan kasih Allah itu sebenarnya dapat terlihat jelas melalui bahasa alam, melalui segala hal yang dapat dilihat, didengar dan dirasakan melalui alam semesta. Atas alam dan segala isinya Allah demikian menyatakan kasih dan kuasanya, maka apa lagi kepada semua manusia. Maka pula pengharapan akan kehadiran Kerajaan Sorga, tentang Yerusalem yang baru, tentang Allah yang berkemah di tengah umat manusia, meski dihayati sebagai hal yang luas, universal, menyentuh seluruh hidup manusia dalam sejarah kini dan masa depan. Kerajaan Sorga yang terungkang dalam kitab apokaliptis Wahyu, bukan perkara kehidupan setelah kiamat. Dengan demikian sudah selayaknya jika manusia yang sudah menerima kasih Tuhan, dapat melihat Tuhan dalam Maha Karya-Nya yang luas dan menyentuh semua aspek hidup, semestinya hidup dengan tatanan Allah yang paling sempurna dan berdimensi luas, yakni Tatanan Kasih.

Renungan Atas Bacaan

Joseph Fletcher salah seorang pakar Etika pernah mengatakan, jika kita sungguh-sungguh memiliki dan melakukan kasih, baik dan tenteramlah dunia. Selesailah semua persoalan. Gagasannya ini menggemparkan dunia etika. Karena dengan melakukan kasih, semua manusia saling mengasihi, maka berhentilah permusuhan, persaingan, ketidakadilan, kecurangan dan semua jenis kejahatan. Yang ada adalah kebaikan yang mendatangkan tentram dan damai. Akan tetapi sayang kelemahan dari pemikiran Fletcher adalah, tak cukup operatif. Maksudnya bagaimana kasih itu dijabarkan dan diwujudkan, karena tiap orang bisa berbeda menafsirkan kasih, sehingga bisa saja atas dasar kasih yang sama-sama diyakininya orang saling bertengkar dan menyalahkan.

Apa ukuran dan jabaran dari kasih? Sesama orang Kristenpun juga bisa dan sering berdebat dan berbeda pamahaman. Seperti orang yang melihat kelemahan pandangan Fletcher, sebagai yang abstrak dan tidak operasioanal. Salah satu hal penting untuk memahami kasih adalah ketika sesama dimanusiakan. Ketika kehidupan diperjuangkan. Ketika alam dijaga kelestariannya. Ketika hewan, binatang, tanaman dilestarikan, disayangi, tidak hanya digunakan untuk kepuasan dan kesenangan manusia. Ketika manusia bersaudara dengan semua orang. Ketika orang saling mendahului berbuat baik, saling tolong menolong dengan ketulusan. Yang semua itu tampak dalam hidup Kristus sebagaimana tersurat di Injil.

Pokok Arah Pewartaan

Tuhan Yesus datang ke dunia ini benar-benar membawa transformasi kehidupan. Dalam arti mengubah potensi buruk dan jahat akibat perbedaan dan kepelbagaian menjadi baik dan bermakna. Perubahan ini benar-benar meruntuhkan potensi-potensi jahat yang sering beroperasi dalam budaya. Transformasi itu dilakukan dengan kekuatan kasih. Kasih itu dinyatakan seperti yang dilakukan oleh Petrus yang peduli siapapun tanpa pandang bulu. Kasih itu terungkap dengan semua ciptaan yang dikasihi Tuhan dan layak memuji Tuhan seperti dalam Mazmur 148. Kehidupan yang dipenuhi kasih sesungguhnya dambaaan semua orang seperti penulis Kitab Wahyu yang berapolaptik. Tuhan Yesus datang  membawa kasih Bapa, dan dikasihi Bapa, juga mengasihi Bapa. Kasih itu Ia anugerahkan kepada para murid, agar murid juga melakukan itu kepada sesama.

Khotbah Jangkep Bahasa Indonesia

Judul Khotbah:

Perintah Baru

Jemaat yang dikasihi  Tuhan,

Joseph Fletcher salah seorang pakar Etika pernah mengatakan, jika kita sungguh-sungguh memiliki dan melakukan kasih, baik dan tenteramlah dunia. Selesailah semua persoalan. Gagasannya ini menggemparkan dunia etika. Karena dengan melakukan kasih, semua manusia saling mengasihi, maka berhentilah permusuhan, persaingan, ketidakadilan, kecurangan dan semua jenis kejahatan. Yang ada adalah kebaikan yang mendatangkan tentram dan damai.

Memang seperti itu semestinya. Sehingganya Tuhan Yesus dengan beraninya mengatakan bahwa manakala kita melakukan kasih, sudah terangkum segala hokum dan norma kehidupan di dunia ini. Sehingga kalau semua orang Kristen melakukan hal ini pasti di mana-mana orang Kristen akan menjadi berkat bagi semua orang.

Namun apa yang terjadi? Spirit kasih yang mendamaikan dan membawa kehidupan manusia sering terhambat dan tersekat oleh eklusifitas atau ketertutupan. Baik oleh agama satu terhadap agama yang lain, oleh suku satu terhadap suku yang yang lain, oleh golongan masyarakat tertentu terhadap yang lain, dan yang sering sekali terjadi adalah ketertutupan hati dan pikiran kita terhadap dan pikiran orang lain.

Kasus masuknya Kornelius dalam gereja lewat pelayanan baptis Petrus yang dipertanyakan oleh orang-orang percaya saat itu memperlihatkan betapa kekristenan sabagai agama kasih ternyata tidak serta merta membuat penganutnya menjadi orang yang berlimpah kasih. Paulus disudutkan, dicurigai mulai bersekutu dengan orang yang dianggap kafir. Bergaul, apalagi membaptis orang kafir, bagi pandangan orang Israel saat itu adalah ancaman kemurnian. Pencemaran, penodaan, kekotoran! Semula Petruspun mengira begitu. Ternyata menjadi pengikut Tuhan Yesus selama kurang lebih 3 tahun, menyaksikan bagaimana Tuhan Yesus bersikap sangat terbuka dan merengkuh semua orang, tak serta merta membuat Petrus dan para murid menjadi juga berpikir terbuka. Pola sosial, kultur dan budaya, yang dimiliki bangsa Israel, sedikit banyak merasuk di dalam pola pikir dan perasaan mereka. Inilah manusia, tak mudah berubah, tak mudah belajar, sekalipun sudah mengikut dan menyaksikan bagaimana Tuhan Yesus melakukan banyak transformasi atau perubahan.

Namun Tuhan tak kehilangan cara untuk mendidik Patrus. Yakni dengan penampakan binatang-binatang yang dianggap haram agar disembelih dan dimakan oleh Petrus. Tuhan menunjukkan bahwa di mata Tuhan tiak ada yang haram, tidak ada yang najis, tidak ada yang hina. Semua direngkuh, dikasihi, diberi kesempatan dan peluang untuk mendapat rahmat. Sayangnya kisah penampakan Petrus menghadapi binatang yang haram dimakan dan diperbolehkan Tuhan ini disimplitiskan, disempitkan oleh banyak orang Kristen menjadi pembetulan bahwa semua halal. Sehingga menutup mata terhadap dampak negatif kebanyakan mengonsumsi daging!!!

Sehingganya Petrus melayani Kornelius. Dan pelayanannya itu dipertanggungjawabkan di hadapan jemaat yang mempertanyakan dan mengritiknya. Petrus berani dan tegar melakukan pelayanan sampai mempertahankan diri saat mendapatkan kritikan dan pertanyaan karena ada hal yang sangat mulia yang ia lakukan, yakni terbuka pada orang yang ingin datang dan mengenal Tuhan. Tanpa membeda-bedakan latar belakangnya. Bagi Rasul Petrus, kaya, koruptor, kafir yang bertobat jauh lebih baik dari pada miskin, tidak kafir, Israel namun merasa suci, merasa tidak bercacat, dan merasa sempurna secara rohani, dan tak perlu bertobat.

Roh Kasih yang menjadi dasar kehidupan yang menciptakan persamaan, persaudaraan yang sejati yang melintasi segala macam perbedaan telah diletakkan dan digelar oleh Tuhan Yesus. Dengan itulah sari pati kehidupan manusia yang adalah meraih kemuliaan hidup diraih. Karenanya Tuhan rela menjadi manusia yang menembus batas sorga dan dunia agar kasih rahmat Sorga tergelar di dunia, dirasakan dan diterima oleh manusia. Dengan jalan itu manusia dimanusiakan oleh Bapa di sorga, dianugerahi dengan pengampunan, dengan rahmat sorga. Agar hidup tentram damai dan sejahtera.

Maka dengan demikian sudah selayaknya jika sikap yang ditunjukkan Allah dengan kemurahanNya yang melimpah pada manusia itu juga mendorong manusia melakukan kasih dan kemurahan kepada sesame. Gereja sebagai persekutuan orang yang telah merasakan kasih itu sudah selayaknya menjadi pihak yang memperjuangkan dan mengembangkan terus menerus hidup yang bersaudara, bersahabat, berteman dengan siapapun. Menjadi persekutuan orang yang menjadi berkat bagi siapapun.

Jika kehidupan dengan kasih persaudaraan sejati dikembangkan terus dalam kehidupan maka inilah sesungguhnya sebuah permulaan dari perwujutan dari pegharapan apokaliptik, atau pengharapan kehidupan yang dituliskan dalam kitab Wahyu, tentang Yerusalem Baru, tentang Allah yang berkemah dan tinggal di tengah umat. Inilah Kerajaan Sorga yang mengejawantah.

Selamat mewujudkan kehidupan yang penuh kasih sejati yang melintasi segala perbedaan dan batasan di dalam kehidupan. Tuhan memberkati. Amin.


Berita Terkait : KOTBAH MINGGU