Toko GEKAJE

gekaje

Polling Website

Apakah Website ini Menarik?

Artikel Terakhir

Calendar

« Dec 2017 »
M S S R K J S
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6

Statistik Website

mod_mod_visitcounterVisitors Online5
mod_mod_visitcounterHits2518440
mod_mod_visitcounterToday431
mod_mod_visitcounterYesterday790
mod_mod_visitcounterThis week431
mod_mod_visitcounterThis month14571
mod_mod_visitcounterAll days382268

Kotbah Minggu, 3 April 2016

Kotbah Minggu, 3 April 2016yesus

Minggu, 3 April 2016

Hari Minggu Paskah II (Putih)

Tema Perayaan Iman

Menjadi Saksi Yang Setia

Daftar Bacaan Kitab Suci

Bacaan I                          : Kisah Para Rasul 5 : 27-32

Mazmur antar bacaan      : Mazmur 118 : 14-29

Bacaan II                         : Wahyu 1 : 4-8

Bacaan Injil                      : Yohanes 20 : 19-31

Tujuan Perayaan Iman

Jemaat diajak untuk menghayati perannya sebagai saksi Kristus, yang senantiasa setia kepada Kristus

 

Menjadi Saksi Yang Setia

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Alkisah Tom Gembus dan Lady Cempluk empat tahun menjalin asmara. Serasa bahwa dunia hanya milik mereka berdua. Ketika Lady Cempluk terantuk (kesandhung) batu, dengan tanggap dan cepat, Tom Gembus meraih tangan Lady Cempluk dan berkata “hati-hati sayang”. Ketika akan menyeberang jalan pun, tak lupa tangan Tom Gembus menggenggam erat tangan Lady Cempluk, agar mereka selamat menyeberang jalan. Merekapun kemudian memutuskan diri untuk menikah. Lima tahun pertama pernikahan mereka, dipenuhi dengan pelangi indah, yang senantiasa tertabur dalam kehidupa berumah tangga. Ketika pagi saling menyapa “selamat pagi sayang”. Namun, ketika badai mulai menerpa, rasa sayang merekapun mulai pudar. Permasalah ekonomi, permasalah pekerjaan, dan berbagai kerikil permasalahan lainnya, silih berganti menerpa kehidupan berumah tangga mereka. Kata “sayang” mulai pudar dan menghilang. Kesetiaan Tom Gembus dan Lady Cempluk pun mulai teruji, ketika orang ketiga mulai menyusup dalam kehidupan berumah tangga mereka. Saling menyalahkan, saling memaki, dan saling membenarkan diri yang ada dalam diri mereka. Ya, mereka berada diujung perceraian, dengan melupakan janji kesetiaan dihadapan Tuhan, ketika mereka memutuskan diri untuk hidup bersama dalam rumah tangga.

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Pertanyaan pada diri kita masing-masing, apakah kita masih mengingat janji yang kita ungkapkan kepada Tuhan, ketika kita akan menjadi umat-Nya? Bersedia menjalani hidup bersama dengan Kristus, dalam pelbagai kondisi dan situasi yang kita hadapi. Tetap setiakah kita, ketika ada permasalahan ekonomi yang menerpa kita? Tetap setiakah kita, ketika persoalan keluarga mulai muncul, dan orang ketiga masuk dalam bahtera rumah tangga kita? Tetap setiakah kita, ketika permasalahan studi dan pekerjaan, membuat kita pusing untuk mencari jalan keluarnya? Apakah kita tidak tergoda untuk berobat ke “orang pintar”, ketika sakit penyakit kita sulit disembuhkan? Apakah kita tetap mengandalkan Kristus, ketika ada rekan kita yang sukses karena meminta nomor ke mbah dukun, dan nomornya tembus? Atau, setiakah kita kepada Kristus, ketika ada jabatan dan pasangan hidup yang mensyaratkan kita untuk meninggalkan Kristus untuk mendapatkannya? Ya, pernahkah pertanyaan-pertanyaan ini seringkali menghampiri kehidupan kita? Mungkin iya, mungkin saja sering. Ya bukan?

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Mari kita belajar dari Petrus dan para rasul. Bacaan Kisah Para Rasul mengisahkan bagaimana kesetiaan Petrus dan para rasul akan panggilannya sebagai saksi Kristus, meskipun ada ancaman besar yang mereka hadapi. Mereka tetap setia dengan panggilannya sebagai saksi Kristus. Petrus dan para rasul, terilhami oleh kesetiaan Tuhan Allah yang senantiasa menyatakan cinta kasih-Nya, yang terwujud dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Ia setia sampai mati di kayu salib, untuk keselamatan kehidupan umat manusia. Tuhan Yesus yang adalah Alfa dan Omega, ada sejak dulu, kini dan selamanya, menyatakan cinta kasih-Nya kepada umat yang setia kepada-Nya. Setelah Tuhan Yesus membuktikan kesetiaan-Nya, Ia pun berkenan mengutus umat-Nya untuk menjadi saksi. Petrus dan para rasullah salah satu penerima pengutusan Tuhan Yesus tersebut. Oleh sebab itu, Petrus dan para rasul menghayati perannya sebagai saksi, yang tetap setia, meskipun berbagai rintangan dan risiko berat dihadapinya.

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Lalu bagaimanakah kita menjadi saksi Kristus yang setia, seperti halnya Petrus dan para rasul? Ada tiga hal yang perlu kita pahami bersama, dari kesaksian empat bacaan kita hari ini :

Menghayati peran sebagai saksi Kristus

Petrus dan para rasul telah menghayati perannya sebagai saksi Kristus. Maka hal pertama kita menjadi saksi Kristus yang setia adalah, memahami bahwa diri kita telah diutus Tuhan, seperti utusan-Nya dalam kitab Yohanes, untuk menjadi saksi Kristus. Kita yang telah diselamatkan Tuhan Yesus, hidup sebagai saksi Kristus yang telah hidup. Bukan hidup untuk diri sendiri. Jadi, di manapun dan dalam kondisi apapun, kita tetap ingat, bahwa peran kita di dunia adalah sebagai saksi Kristus. Sebagai contoh, ketika kita berada di tengah keluarga, dan ada persoalan keluarga yang kita hadapi, kita ingat bahwa kita adalah saksi Kristus. Ketika kita berada di tengah pekerjaan, dengan berbagai masalah, kita ingat bahwa kita adalah saksi Kristus.

Merasakan TANGAN TUHAN

Ketika Tuhan mengutus kita, Ia pun memperlengkapi kita dengan kuasa Roh Kudus. Itulah janji yang dinyatakan Tuhan Yesus kepada para murid, menurut kesaksian kitab Yohanes. Merasakan kuasa Roh Kudus, sama halnya kita melihat Dia yang mengutus kita sebagai saksi-Nya (Wahyu 1:7). Pemazmur mengajak kita, sebagai saksi Kristus, kita merasakan Tangan Tuhan, yang terwujud dalam diri Roh Kudus. Artinya bahwa, kita tidak mengandalkan kemanusiaan kita, namun mengandalkan Dia yang selalu menopang, menguatkan, dan memampukan kita menjadi saksi Kristus. Sebagai contoh, ketika kita berada dalam permasalahan yang sedang kita hadapi, kita ingat bahwa Tuhan pasti akan menopang dengan Tangan-Nya, Roh Kudus akan membisikkan sesuatu yang harus kita lakukan. Misalnya, ketika ada masalah ekonomi dalam keluarga. Kita datang kepada Tuhan, memohon pertolongan Tangan-Nya, agar kita tetap setia menjadi saksi-Nya. Pertama, Tuhan memberikan topangan Tangan-Nya yaitu hati yang damai. Dengan hati yang damai inilah, kita kemudian bisa memikirkan jalan keluar dari masalah yang kita hadapi, mungkin dengan menjual barang bekas, atau mencari pekerjaan sampingan. Kita tetap menjadi saksi yang setia, dengan tidak serong hati, mencari jalan pintas.

Mau mengampuni

Hal terakhir, adalah mau mengampuni. Mungkin salah satu hal terberat kita menjadi saksi Kristus yang setia adalah mau mengampuni. Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes 20:23, menghendaki kita untuk menyelesaikan masalah mengampuni ini. Mengampuni ini bisa diawali dari keluarga, jemaat, hingga mengampuni sesama. Mengapa demikian? Karena kita belajar dari Tuhan Yesus yang berkenan mengampuni, bukti kesetiaan-Nya kepada kita. Menjadi saksi Kristus yang setia, yang diwujudkan dalam hidup mau mengampuni sesama, dengan tidak lagi mengingat kesalahan sesama kita.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Marilah kita menjadi saksi Kristus yang setia, dalam segala kondisi dan situasi yang kita hadapi. Kristus Yesus telah membuktikan diri-Nya setia sebagai saksi kebenaran firman Allah yang hidup untuk kita semua. Kita undangkan Injil, damai sejahtera Allah Bapa, melalui kehidupan kita yang setia kepada Kristus, sebagai saksi hidup Kristus sampai selama-lamanya.

Amin.

Berita Terkait : KOTBAH MINGGU