Toko GEKAJE

gekaje

Polling Website

Apakah Website ini Menarik?

Artikel Terakhir

Calendar

« Dec 2017 »
M S S R K J S
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6

Statistik Website

mod_mod_visitcounterVisitors Online4
mod_mod_visitcounterHits2518431
mod_mod_visitcounterToday430
mod_mod_visitcounterYesterday790
mod_mod_visitcounterThis week430
mod_mod_visitcounterThis month14570
mod_mod_visitcounterAll days382267

Menjadi Lektor

Menjadi Lektorilustrasi lektor

Salah satu petugas ibadah yang cukup penting di Gereja Kristen Jawa adalah Lektor atau pembaca Alkitab di gereja. Ia harus berdiri di depan mimbar dan membacakan sabda-sabda dari Kitab Suci bagi seluruh umat. Ada beberapa hal yang sering dialami oleh para lektor dalam tugas pelayanannya. Ini nih …

1. Salah membaca

Malu … panik … deg-degan, bercampur semuanya, ketika suatu ketika salah membacakan bacaan Alkitab. Perasaan bersalah dan malu bercampur sehingga ingin sekali segera turun dari mimbar dan menghilang sejenak. Rasanya hampir semua petugas Lektor pernah mengalami situasi seperti itu. Nah dalam situasi seperti itu baik kalau sejenak kita menghela nafas, mengembalikan kepercayaan diri dan melanjutkan pembacaan dengan bacaan yang benar.  Dengan begitu kita akan terbiasa menjalaninya … yang penting tidak keterusan salah bacanya ..

2. Tiba-tiba Blank di atas mimbar

Lektor pun ada kalanya ngeblank di atas mimbar. Lho kok bisa? Panik atau karena kurangnya persiapan, serta rasa gugup karena ditatap ratusan pasang mata dan kadang-kadang di shoot kamera, membuat kehilangan fokus di atas mimbar. Terus gimana? Para Lektor harus terus membaca dan bahkan kadang diam sejenak, mencari kata-kata yang hilang gara-gara blank tadi, supaya ibadah kembali berjalan.

3. Jadi tambah PeDe

Berbicara didepan orang banyak itu perlu ketrampilan dan kepercayaan diri. Bahkan sekedar membaca di depan banyak orangpun memerlukan kepercayaan diri. Maka menjadi lectorpun membutuhkan rasa percaya diri. Dan itulah yang dapat diperoleh dari pelayanan yang satu ini. Menjadi Lektor akan membawa pribadi-pribadi untuk makin percaya diri dalam kegiatan-kegiatna pelayanan lainnya.

4. Mulai rajin membaca Kitab Suci

Ketika jadi lektor mau nggak mau harus belajar membaca sekaligus menyerapi inti dari setiap bacaan Kitab Suci. Mulai dari kitab Perjanjian Lama dan surat-surat Rasul. Hal ini akan membuat kita belajar lebih lagi untuk rajin membaca Alkitab.

5. Harus siap menerima kritik

Menjadi lektor berarti harus siap menerima kritik dari semua kalangan. Kritikan bisa datang dari teman sesama lektor, umat, Tim Ibadah dan Majelis Gereja. Sakit nggak? Sakit lah pasti. Apalagi kalau pas kita jelek-jeleknya dan langsung dikritik abis. Tapi ingat, kritikan itu membangun ya …. Jangan down karena kritikan orang lain. Justru dengan adanya kritik, para lektor bisa mengetahui kelemahan kami dan belajar lagi untuk memperbaiki diri.

6. Harus menjaga suara

Suara adalah faktor penting dalam tugas pelayanan lektor, maka setiap lektor harus menjaga kualitas suaranya. Caranya adalah dengan tidak terlalu sering makan gorengan dan minum es serta menjaga daya tahan tubuh. Lektor harus benar-benar menjaga kesehatan dan suaranya agar bisa membaca dengan baik

7. Harus siap jadi mentor

Jadi lektor artinya kita juga harus siap jadi mentor. Kenapa? Karena lektor yang sudah lebih lama, pasti akan tergerak untuk membimbing lektor-lektor baru. Paling tidak dengan berbagi pengalaman.

8. Belajar membaca dengan hati

Membaca dengan hati artinya para lektor harus mengerti dengan jelas inti dari setiap bacaan. Lektor harus mengetahui latar belakang bacaan dan memposisikan diri sebagai orang atau penulis bacaan. Itulah mengapa kami harus bisa ‘masuk’ ke dalam bacaan, baik itu bacaan berupa kisah dengan berbagai macam karakter yang berganti-ganti maupun bacaan berupa surat seperti surat Rasul Paulus. Lektor harus mampu membayangkan kondisi yang tertulis dalam bacaan, mendalami setiap karakter dan menyampaikannya kepada umat.

Ya, menjadi lektor memang memberikan banyak sekali pengalaman yang luar biasa. Namun sama seperti pelayanan lain, satu hal yang terpenting adalah harus tetap menjaga hati dan etika, agar pelayanan kami tidak terhenti di gereja masing-masing, namun juga menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

Selamat melayani dan Tuhan memberkati!

Berita Terkait : BERITA GEREJA